Diskusi kali ini mengenai perbandingan pola asuh anak di Jepang dan Indonesia. Tatik membuka diskusi berdasarkan sebuah posting lama yg konon katanya baru dibaca. Salah satu paragraph menarik yg dikutip oleh tatik adalah berikut ini:
Dari adegan itu, bisa kita bayangkan perbedaan cara pengasuhan anak Jepang dan anak Indonesia. Dari pengamatan saya selama hampir setahun tinggal di Jepang, anak Jepang cenderung dibiasakan dari kecil untuk mengatasi berbagai kesulitan sendiri, sementara anak Indonesia selalu disediakan asisten untuk mengatasi kesulitannya. Babysitter atau pembantu rumah tangga pun tidak ada dalam kebiasaan keluarga-keluarga di Jepang. Sebaliknya di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan lain-lain kehadiran mereka wajib ada sebagai asisten keluarga maupun sebagai asisten anak-anaknya.
Pendapat tersebut disanggah oleh Kang Hasan, yg mengaku telah mendapat gelar PhD dari Jepang bahwa tulisan tersebut mengandung stereotyping karena orang Jepun yg dia perhatikan sewaktu di sana ternyata juga malas-malas, seperti yg ditulis oleh Kang Hasan pada paragraph berikut:
kesan saya, anak muda jepang, mahasiswa jepang itu PEMALAS. udah
pemalas, ndak punya inisiatif, ndak kreatif. persis kayak robot.
mereka hanya menghafal apa yang diajarkan. di luar itu, ndak tahu apa-
apa. ini mahasiswa kebanyakan. meski tentu saja ada beberapa yang
brilliant.
Apa yg mendasari pendapat Kang Hasan dan Bu Doktor yg tulisannya diangkat oleh Tatik? Simak lebih lanjut diskusinya di milis kampung, tempat cakrukan warga UGM di thread berikut: